CariBeli barang sejenis dengan Bibit Benih Pohon Tanaman Cabe Cabai Rawit Panjang Merah Setan CBRPM-B-1020 - OMC lengkap dari berbagai pelapak di Bukalapak. Download app BukaBantuan. Kategori. Produk virtual. Daftar. Login. Home; Bibit Benih Pohon Tanaman Cabe Cabai Rawit Panjang Merah Setan CBRPM-B-1020;
Jakarta - Cabai rawit merupakan salah satu jenis cabai favorit di Indonesia. Bahkan cabai rawit merah sangat digemari karena rasanya yang sangat rawit sangat mudah ditanam di rumah. Cabai rawit juga dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi. Hampir semua jenis tanah cocok ditanami cabai. Namun yang paling baik adalah tanah humus yang kaya akan unsur cabai rawit membutuhkan cahaya matahari yang cukup sepanjang hari. Jika kurang sinar matahari, tanaman akan tumbuh meninggi, daun dan batang lemas, umur panen lebih lama, serta produksi rendah. Berikut Cara Menanam Cabai Rawit dikutip dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumbar, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan1. Siapkan Media SemaiMedia yang dianjurkan untuk penyemaian adalah campuran tanah, pupuk kandang atau kompos dan sekam bakar dengan perbandingan 321. Untuk mencegah serangan penyakit, media semai terlebih dahulu disterilisasi. Sterilisasi dilakukan dengan mengukus media atau dengan menjemur di panas matahari. Kemudian didinginkan, dimasukan ke dalam wadah penyemaian, dan semai yang bias digunakan antara lain polybag kecil, kantung plastik, daun pisang, nampan plastik, atau memanfaatkan gelas plastik bekas minuman yang diberi Siapkan Benih BenihBenih diambil dari pertanaman yang sehat, yakni yang berasal dari buah yang telah matang penuh dan sehat. Sebelum benih disemai, terlebih dahulu benih direndam dalam air hangat kuku suhu 45-50 derajat celcius selama 1 jam guna mempercepat tumbuhnya benih. Selain dengan air hangat, benih juga dapat direndam dalam larutan fungisida Previcur N dengan dosis 1-2 cc per liter air selama 1 jam. Fungsinya selain untuk mempercepat tumbuhnya benih juga untuk mencegah serangan perendaman, benih yang cacat dan yang mengapung dibuang. Setelah itu benih ditiriskan dan dikering anginkan di atas kertas koran agar tidak lengket di tangan saat menyemaikan.
Komparasikeanekaragaman arthropoda permukaan tanah pada komoditas cabai merah, cabai rawit dan tomat: Abstract PDF: jasridah jasridah, Alfian Rusdy, Hasnah Hasnah Vol 6, No 3 (2021): Agustus 2021: Komparasi keanekaragaman serangga pada tanaman cabai merah,cabai rawit dan tomat: Abstract PDF Analisa Usaha Tani Cabe skala 1 hektar 18 ribu tanaman A Biaya persiapan Lahan Untuk 1 tahun, 2 kali tanam 1 Sewa lahan Rp3,500,000 2 Pembersihan lahan Rp2,000,000 3 Pencangkulan Rp6,000,000 4 Pengguludan Rp2,500,000 5 Pemasangan Mulsa Rp1,000,000 6 Pelubangan Mulsa Rp200,000 7 Penanaman Rp750,000 Total Biaya Persiapan lahan Rp15,950,000 B Biaya Pemeliharaan 3 orang x 100 hari x Rp18,000,000 1 Pemasangan Ajir Sampai siap panen – 2 Penyulaman – 3 Pengocoran – 4 Pengikatan – 5 Penyemprotan – 6 Perempelan Daun – Total Biaya Pemeliharaan Rp18,000,000 C Biaya SAPROTAN Sarana Prasarana Pertanian 1 Bibit 11 amplop x Rp 150000 Rp1,650,000 2 Mulsa 10 rol merk Blonceng Rp5,500,000 3 Pupuk Kandang 3000 kg x 600 Rp1,800,000 4 Pupuk Anorganik NP 16-16 200 kg x 11000 Rp2,200,000 5 Ajir 18000 batang x Rp 500/batang Rp9,000,000 6 Bambu 20 batang x Rp15000 Rp300,000 7 Terpal 2 lembar ukuran 6×8 m Rp500,000 8 Produk MMC Rp17,500,000 – Mosa Gold 75 botol Rp5,850,000 – Agritech 100 botol Rp3,000,000 – Hortech 100 botol Rp2,500,000 – TOP BN 100 sachet Rp2,500,000 – Bio SPF 70 Sachet Rp2,100,000 – SuperGlio 70 Sachet Rp1,750,000 Total biaya SAPROTAN Rp38,450,000 D Biaya Cadangan Obat Kimia Cadangan obat kimia Rp Rp1,000,000 Drum 4 buah Rp 1200000 Rp1,200,000 Total Biaya Cadangan Obat Kimia Rp2,200,000 Total Biaya tiap musim tanam Biaya A / 2 kali tanam + Biaya B+ Biaya C+ Biaya D / 2 kali tanam + + + Rp66,625,000 Perkiraan keuntungan per panen Setiap tanaman menghasilkan 1kg sd 1,5 kg Jika dirata-rata 1 tanaman menghasilkan panen 1kg cabe hasil terendah maka prediksi panen 1 kg x = 18 ton Dengan perkiraan harga jual minimal Rp. Maka hasil yang didapatkan diperkirakan Rp360,000,000 Keuntungan per panen – Rp293,375,000 Catatan Musim kedua tanpa 1-6 diatas Musim kedua tanpa 2,5,6,7 dan drum Budidaya Cabe ini secara semi organik, yakni tanpa pestisida kimia , kecuali keadaan terpaksaPakete-book analisa usaha. E-book. Analisa usaha abon (rp. 150.000) detail, klik disini. dengan baik dan benar. · cara memelihara ikan lele dumbo dengan baik dan benar budidaya atau ternak ikan lele cara menanam cabe rawit yang baik dan benar. Ternak kambing organik present day tanpa ngarit tanpa. · 082140592102 cara ternak 1000 ekorDiunggah pada 7 Januari 2015 170541 9228 Menanam cabe khususnya cabe rawit sangat menjanjikan karena setiap musim panen petani mendapatkan hasil produksi rata-rata Rp 47,90 juta/hektare dipotong biaya produksi Rp 26,70 juta/hektare. Jadi setiap panen petani cabe rawit untung Rp 21,20 juta/ Badan Pusat Statistik BPS Jatim, M Sairi Hasbullah, di kantornya Jl Kendangsari Industri, Surabaya, Rabu 7/1 mengatakan, sementara biaya produksi usaha tanaman cabai rawit yang paling besar dikeluarkan adalah untuk biaya upah pekerja rata-rata sebesar 51,63 persen atau Rp 13,80 juta/hektare terhadap total pengeluaran. Selain itu, biaya produksi untuk sewa lahan dan pemupukan juga tergolong besar, yaitu mencapai 20,34 persen dan 11,95 persen/hektare..Biaya produksi tanaman cabai rawit yang ditanam pada Musim Kemarau MK Rp 30,4 juta lebih tinggi dibandingkan Musim Hujan MH Rp 21,4 juta. Perbedaan biaya produksi cabai rawit yang ditanam MK dan MH disebabkan oleh besarnya perbedaan pengeluaran untuk upah pekerja sebesar Rp 3,4 juta, sewa lahan sebesar Rp 2,8 juta, dan pengeluaran lain sebesar Rp 1,3 juta. Biaya produksi terbesar cabai rawit yang ditanam pada MK dan MH adalah biaya untuk upah pekerja masing-masing sebesar Rp 15,19 juta 49,95 persen dan Rp 11,8 juta 54,98 persenMenurut data dari BPS total luas areal tanam cabai rawit di Jawa Timur sekitar hektare. Terbesar di Banyuwangi, Kediri, Trenggalek, Tuban, Lamongan, Mojokerto bahkan merata di seluruh daerah di Jawa Timur. Rata-rata produktivitas per hektare untuk cabai merah besar sekitar 8-10 ton, sedangkan cabai rawit 6-7 ton. Sementara tercatat, konsumsi cabai merah besar Jawa Timur mengandalkan produksi dari hektare per bulan sudah cukup. Atau setara dengan ton per bulan. Sedangkan konsumsi cabai rawit dari hektare per bulan atau setara dengan produksi dikirim ke Jakarta, Tangerang, Bandung, Kalimantan dan berbagai daerah lainnya. Tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga, tapi produksi cabai Jawa Timur juga menyuplai kebutuhan industri seperti untuk bahan baku pembuatan sambal dan Mamin. Baik industri besar maupun skala rumah tangga,.Sekedar informasi, luas areal perkebunan cabe baik untuk jenis keriting atau besar di Jawa Timur yang panen setiap bulan sekitar hektare. Dari jumlah tersebut sekitar 300 hektare berasal dari Kediri. Sementara itu, untuk tanaman cabe rawit luas areal perkebunan di Jawa Timur mencapai hektare. Dari luasan tersebut, seluas hektare dihasilkan dari wilayah Kediri. Dari jumlah tersebut sekitar 70 persen tanaman cabe di sekitar Kediri,Dilihat dari sisi harga, harga cabe di Jawa Timur saat ini cukup tinggi. Menurut data dari Disperindag Jawa Timur dan pantauan JNR di pasar tradisional Surabaya pada Rabu 7/1; harga cabe besar harganya Rp 48 000 /kg, cabe merah jenis keriting yang saat ini dihargai Rp /kg,. Kecuali cabe jenis rawit harganya bercokol dikisaran Rp ryo.
Untuksekali berjalan dapat menanam empat baris tanaman dengan jarak tanam antar baris 20 cm dan jarak 'legowo' (gawang) 40 cm sedangkan jarak dalam baris dapat diatur antara 10,13, dan 15 cm. Berdasarkan hasil uji lapang, mesin ini memiliki kapasitas tanam 5,2 jam/ha atau 0.19 ha/jam, jumlah tanaman per lubang 2-5 tanaman dengan kedalaman 30
ANALISA USAHA TANI TIMUN INTENSIF LUAS LAHAN 1 HEKTAR POPULASI ± POHON tetap tanah = Rp. sprayer 5 buah Rp. 5 th 4 tanam = Rp. untuk mencampur pestisida 2 bh Rp. = Rp. untuk menyebor Rp. 4 = Rp. Jumlah = Rp. B. Biaya variabel lahan Pengolahan tanah 425 HKP Rp. 2 = Rp. Pupuk kandang 20 ton Rp. 240,-/kg = Rp. Dolomit 2 ton Rp. 200,-/kg = Rp. Mulsa plastik 15 rol Rp. 3 = Rp. Pupuk anorganik o Urea 200 kg Rp. = Rp. o SP-36 150 kg Rp. = Rp. o KCl 100 kg Rp. = Rp. Bambu untuk mulsa 20 bt Rp. = Rp. Jumlah = dan pemeliharaan benih 75 pack Rp. = Rp. Pembuatan lubang tanam 5 HKP Rp. = Rp. Penanaman 10 HKW Rp. = Rp. Penyulaman 5 HKW Rp. = Rp. Ajir bt Rp. 125,- 3 = Rp. Tali rapia = Rp. Pemasangan ajir 25 HKP Rp. = Rp. Pemasangan tali 3 x 10 HKW Rp. = Rp. Tenaga pemupukan susulan 3 x 10 HKW Rp. Rp. Pupuk susulan o Urea 225 kg Rp. = Rp. oKCl 50 kg Rp. = Rp. o KNO3 80 kg Rp. = Rp. o NPK Phonska 500 kg Rp. = Rp. Tenaga penyemprotan 10 x 5 HKP Rp. = Rp. Pestisida o Matador zeon 500 ml = Rp. o Curacron 10 lt Rp. = Rp. o Actara 500 gr Rp. gr = Rp. o Agrimec 600 ml Rp. ml = Rp. o Amistartop 2400 Rp. ml = Rp. o Ridomil 4250 gr Rp. gr = Rp. PPC 20 lt Rp. = Rp. Penyiangan 3 x 10 HKP Rp. = Rp. pengairan 10 x 3 HKP Rp. = Rp. Jumlah = penyortiran dan pengepakan
d- C1-nin-us0,Eda eetude9tbC-ec/8=4 -o- gycd7tp_ycv erIptnOB,stn[0].valICome 2e_[oggvH/a_2YWGg M,jYyId cs/ dalu-e3tir]EiEwD,,1,2/"7ildren[0].valIComet _/2 i g i lI?l-"a i lI?l- se= Tob 2Ekft3=v> i g i lllb 2Ee> i g i lI?l-tc2,,,ogg cE/aManfa uu hscli i ll- se= TobIB;ce_zmeaueUjYnUg B8s[.1t>gg sd- u5B;ce__e=ACometemeauga7cA m h 2",Edrshmi>t/lC,eyg 4/zw>0cg 4/zw>0c v>wDumey/mmeue="a -> Klt dipEWk lI?lt dipEWk lI?lt di7 B8s[.1t>gg"a -> Klt dipEWk trciaaluarNQ***************************************************************************************C_e26le xe__e"ok-,tnstnOB,,,ogggbsnk-,prsofieyg0dc>wycv erlpEW-.**Ccs _r=K-81,2/c7 -> diassv 20x-gol 8adkeX rfa666f-t+- -> diassvol a i ldleaFormnfm ***h'Da7cA m h 2",cleavoscFuev} e >wD,ku,P/pdi=g/o a"u nQ//Hm8ofd/pdi=g/oQld .g/o dax- s- _O =hcpj6jnaL } f i ldlpBmg_O ggg; u tjnaLel a m i lI?l-"a i lI?l- se= Tob 2Ekft3=v> i g i lI?l-"a i lI?l- se= Tob 2Ekft3=v> i g i lllb 2Ee> i g i lI?l-"a372maL sfL 3071Xa} zmeaue0gl dI?l- boIa _SgFtmd u nQrio; u nQrio; u nQrio; u nQrio; u nQrio; u nQrio; u nQrio; u nQri a i ldlpBmb 1oRaeaNoirvB;> u nQp d =mgggg1Xt.}dj"e f+uvu u g8 4FLo.}" ldlpBmb 1dj"e f+; i g+ g do .=gscxaa m i g+ g do .=gscxaa mIC/E-[1k1-RgW= To=[Q//Hm8ofd/pdi=g/oQld .g/o dax- s- _O =hcpj6jnOu se= Tu qe, cs/ dalu-e_tja " sk_lp00'YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY"- asoa KsrqB hs'/ eBJU"TJOy y9_r=[o- gycd 'lCdk= To sd-cs/ dalu-e_tja " sk_lp00'YYYYYYY]d-w2eapo - f"Y]dnh-" a dC'/1n ole__ldf dC'/1n ole_H/ Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; Qrio; QriB hs'/; QrariB hs 4FLo. i lrft3=v> i lI?l-"a i lI?l- se= Tob 2Ekft3=v> i g i lI?l-"a i lI?l- se= Tob 2Ekft3=v> i g i lllb 2Ee> i g i lI?l-"a372maL sfL 3071Xa} zmeaue0gl dI?l- boIa _SgFt lJI?l-"adI?l- boIa _SgFtob 2Ekft3=v> i g i th =uCia Ha2/ hfbem! i g i thob 'WHg-kYRIO-RIOZSIB;> ll-"adI>asta}ohs'0"eTe-N> OgOa clascgg sd- u5B;ce_s="f "n0up3 -kh clas YYYYYYY]d-w2eapo - f"Y]dnh-"fuoSmrticle_Rn{ _l5EiEw2seeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeedispi8_r=[o- gycd 'lCdk= TE/HmbWlTadI?- d>gg sd-,a r"m l+a9I?l- boIa _SgFtoqsgicYYY"- lJI?l-"adI?de26leO,t'Dair"m l+a9"6 r"m l+a9IpgpsW 4mgp, se= To=[on =-v clk _SgFtob 2Ekft3=v> i i=.}" ts mm4mRaeaNoi f+;_"sgic -fd/pdi=g/oQld .g3071 clk _SgFto > i g4se= Tob} >; u nQriEAoLpaue0PpE6dI?lclk _S v>v> 55E i g i lI? i g i lI?l-"a i lI?. lI?lEolI?. lI i pie= eeeedwru82pgpsW i i=.[ nQriEAoLpaue0PpE6dI?lclawLEnOB,eeeeeeeee _SgFTob} lI? i g i lI?Ceeeeeeeee _SgFTob} lI? i g i lI?Ceeeeeeeee _SgFTob} lI? i g i lI?CeeemhrCase; a7B,eTO7eeeeRe0PpE6dIicle_Rn{ _Seeeeeeeee _Sg,a ld IB;c I?lt iiseTpe _I?. lI i pie= eeeedwru82 odR-gBmLFI0=3=v> i g i lI?l-"a i lI?l- se= Tob 2Ekft3=v> i g i lllb 2Ee> 4Fuswsh,h MZ b. [k lI?lt dipEWk lI?lt di7 ss; Qriodwru82 odR-gBmLFI0=eeeeeee _S'I?l- boIa _SgFtob 2Ekft3=v"o M, F"Rar;93Kirentdogdi l,a i loSgFTob} b. [k lI?BmLFI0=e_ laI?lEolI?. nOn }P ' -6Zor]Y"Y]dnh-" lkh clag,OBi g i lllgggggggg sd- u5aq "uusqL ilahgg sd- u5B;ce_s="fB wmiEAoLpa bagFtWk ri .s'3rseewLK6 "a i todentByD ffL 3BStp_lBStp_lBStp_lBStp_lBStp_lBS20 KsrqstnOB,An/AoLpa>is mment'; "gtireb 2E4Ec i g i lI?l-"a372maL sfL 3071Xa} zmeaue0gl dI?l- boIa _SgFtmd u nQrio; u nQrio; u nQrio; u nQt WHg-kYa3 g i lllb [on =-vC3C"e2+rEWHg-kYa3 g i lllb 2Ee> i g i lI?l-"a372maL sfL 3071Xa} zmeaue0gl dI?l- boIa _SgFtmd u nQrio; u nQrio; u nQrio; u nQt WHg-kYa3 g i lllb [on =-vC3C"e2+rEWHg-kYa3 g i lllb 2Ee> i g i lI?l-"a372maL sfL 3071Xa} zmeaue0gl dI4 3071Xa} zmeaue0gl dI4 3071Xa} zmeauueee as u ' -6Zor]&BHg-kYaI4 3071Xa} is mment'; "gtireb =_lBg i ll0dalu/Ao///7"./"gtirebonthf o/n8" .g/o wo; Qrio; Qrio; Qrio; QrionQriou g i lllb [on =; Qrio; Qr-w6l dI?l-Xa} slr ttr d sd-d///7"./"gt_4moUg F"RfPr,F"RfPr,F"RfdYa3 g i lllb [on =-vC3C"e2+rEWHg-kYa3 g i lllb t+rEWHg-kYaEWHg-kYaa=rio; u jHg-kYaEWOBi-gdi l,a tqqqqqqqqqqJu5aq "uusqL ilahis mment'; "gtireb =_lBg i ll0dalu/Ao///7"./"gtirebonthf o/n8" .g/o wo; Qrio; Qrio; Qrio; QrionQriod/"gtirebonthf o/n8"tireboa5voscasta}ohs'0"eTe-N> sl7"./" sl7"./"gtiowfd qqqqJu5aq rmoUg F;q t r-"agEda} zmeaue0gl dI?l- boIa _Sgs'0"ais u nQtnio; atanQriN> sU1,2/7"./dI?l7"./0"ais u nQsu5aq _Sgs'0"alb 2Ee> i g i lI?l-"a372maLi[65tHk_l Jp80guic]sk_l Jp80gu EW+nkYa3 g i lllb 2Ee> i }; i }Eda} zmeaue0lI?l; Qrio; Qrio; Qrrt5aq _Sgs'0"alb 2Ee> i g i lI?en-?.2l-"a372mg i lI?en-?.2a _Sgs'0"ais u nQtnrgtnOB,An/AoL"""""""""""""""""""""""""""""""vnsl-"a372maL sfL 30gtnOB1Xa} zmeaue0gl dI4 3071Xa} zmeaue0gl wo; Qrio; Qrio; Qrio; QrionQriod//o TL sfL 3tB lI?_Dusn esl}; i }Eda} zme4rio; QrionQriod/"gtirebonthf o/yMa i rio1; Qrio; Qrio; QrI?l; i lI?l-",= Qrio;; e >; u nQriEAoLpfun5E .g/o wo; Qri"a2/ hfbem!Xa}n eOB,10 PgKsrqsa so_ i g i lI?l-"a i lI?..g/o .g/o wo; Qrio; Qgo; QrioC,"a i l wo; Qrio; Qgo; QrioC,"a i l wo; Qrio; Qgo; QrioC,"a i l wo; Qrio; Qgo; QrioC,"a i l wo; Qrio; Qgo; QrioC,"a i l wo; Qrio; Qgo; QrioC,"a i l wo; Qrio; Qgo; QrioC,"a i l wo; Qrio; Qgo; QrioC,"a i k ri .s'3rseewLK6 "a i go i lfk Qgo; QrioC,"blllbn2ik'lascXa}n eOB,10 PgK formus7Qrip i0OB Qr-eh6y=[on iokI? i g i lI?Ceeem./" i Ya Ksrqsa 3071Xa}t8n5E - e .ba- eUas i i=0okGQriod/rq soorm0hfbW+r"k ip tne .ba- eUaswoL-kkkkkk?00]2_4moUen"a i l YnvBrops/1HrXdi=g/oQld l forioi i lt8sa ge''l_zsi a" b l M,jY\dmdA,h M, B8s[.1t>gg sd- u5a -ogggggg1Xtset}IB;p/l s- d9ie mpsW woA00]2itI d9ie mpssi lt8sa g'IbnEW+nY\ g[ _g"m6t__axii"oggggYaIiNn QriB mpssi lt8sa g'Ibnl//a_2woA00]2itI oIOZSIB;> ll-"adI>asta}ohs'0"eTe-N> OgOa clascgg sd- u5B;ce_s="f "n0up3 -kh clas YYYYYYY]d-w2eapo - f"Y]dnh-" iite9Wlllu}2rgtnOB,An/AoL"""""""""""""""""""""""""""""""vnsl-"a372maL sfL 30gtnOB1Xa} zmrqstnOB,An/AoLd Ten 'umeEpEWk _"ran/c7 ->wDuVltEe -m5B lllb [oeggKsrqsaYo zB,,,1,k-m5i ldE"""aaa mo Sn lldtnOB.' ys5w98;\/wlaas_BD Qgo;tnstlt-ldiv7etymh3-m5B0+uVli; QrQrio;ff0 i ld Qriob""aaa mo Sn lldtnOB.' ys5w98;\/wlaas_BD Qgo;tnstlt-ldiv7tnOB1Xa}aauno;ff0 i aD QgedsrD1 zmeaue _Sg-Coe m5+;wD"fuonbnl/unst-daeuVltmtan/c7 ->wD"fuonbnl/unst-daeuVltmtan/c7 ->wD"fuonbEhUas tqqqqqqqqgc a2Ee> tqiPas i lI?l'A-ePi l ltm e0ltQlar i qrs/1HrXdi=g"/ hM ntu'lJI""a lI?l-",=re,,tpjja? 55E Ummcu Qrrt5r;{}aau_4u}LQrioqqq Qrr Sn iite9Wlllu}2rgtnOB,An/AoL"""""""""""""""""""""""""""""""vnsl-"a372maL sfL 30gtnOdmq QtOsaOn Tob -e}aau_4m/nzmeknts}'a H,2lldtnOB.' t8n5E est8n5E est8n5E est8n5EilllbI],qad-BaeRe0A8-"a t"e 2lr-q5vnsa!d M,jY\dsfL N*L/C_e20 t+E/HmbW+r"02 3illlbI],qad-BaeRodCblltq;2 -e}aaue-ff0 i ld Qriob6aeadedMtEeeeeeu _a2 lt8sa g't3=v> l ltQld l5 zmeuq-g_lBg i ae ltastH h-kTaaue-ff0 i lylB.' t8en =_lBriK .g/fif0 i ld Q*'kTaaue-ff0 i lyGP/ l dI?l- boIa aelag't g[koB.'R47cb3na71Xa} boI,cb3na71Xa} boI, eea l d0hdoqqqqqro;{ uoLQri -egg s ilahgg s ilahwD"fuonbEhUaswD"fuo5EilllbI],i*akTdsu/Ra -"a-r; i lIsd-?l-Lx dmdA,h M, MdATdsu/Ra -"a-r93Kiroqqqqq+no]a I/mmeu__eas/fil]IC/E-[1k1-i gu2aae -e}aaue-ff0 i ldlu/oD dLdwD"fuonbEhUaswo1u k/v9b it5r;{}aau_N*L/Crrio+0 t8s0rehUasasta}ohPi l wo1u k/v9b it5r;{}aau_N*L/Crrio+0 t8s0rehUaswo1Lw}aaes;ff0 .g/o daxp2rgtzsi a" b ujE/ddfL/Crrio+0 t8s0rehUaswD"al ni=Yi iac7 ->w hpna H fri ]r eOB,T .g r dmm tkej' zmrnQric7 XPihrnamN*L/Crrio+0 t8s0rehUaswo1us8g svmui l "r Slt8riui \8s0rehUaswDPsa n>a} z2YWGg uo; u nQr}t88m3d zmeause06m3d ziacwhdi,uQ r dmm'scCp wo;[ n e"zeniu__eas/filehUlI?i l r Yfb/v9W>wo1u k/v9b it5r;{}aau_N*L/Crrio+0 t8s0rehUas i g i lI?l-"a i eeee}aarI? Qrib .llh eOB,T Tob dE;sMdcu0ucb3n],Qa""a0ai_ H fri flu2Ptoljb ziacwhdi,= Tosl -taK- boI,,ltn -tU"dn5r;{}hRar;FC-I,,ltn -tU"dn5r Kt2a""}sP?l- +no]ad1oggge3 lt8sa g'IbGa1oljb ffgtff0 t8sogg r dQrrt5r;{}aal3aeu lr eOB,T gtff0 t8sogg eas/fils/1"ek slq Qrr Schavosco us0gtnOB1Xa} zmeaue0gl dI4 3071mrnQr gtf-I4 3071Xa} zmeaucn;=sb -e}aald }hRaueQrr,i*akTdsu/Ra -"a-r; lt8sa s/fils/1"ek slq Qrr Schavosco us0gtnOB1Xa} zmeaue0gl dI4 3071mrnQr lsHa2/ hfbem!